Senin, 22 Juni 2015

TUNANETRA KARENA MINUMAN KERAS

Ini adalah kisah dari salah seorang teman saya yang mengalami ketunanetraan akibat minuman keras. Tahun 2012 saya sudah berada di Bandung tepatnya di Wyataguna, yaitu sebuah Yayasan Ketunanetraan terbesar di Indonesia karena dibawah tanggung jawab Kementrian Sosial. Mungkin anda yang baru membaca Blog ini penasaran dengan profil saya dan bagaimana saya mengalami ketunanetraan bisa baca postingan saya sebelumnya karena kali ini saya ingin membagi cerita teman saya yang juga mengalami ketunanetraan sewaktu dewasa. Pertama kali berada di tempat ini saya hanya tertegun mendapati bahwa saya tidak sendirian, ternyata banyak juga orang yang bernasib sama seperti saya bahkan lebih parah dari saya sendiri. Akhirnya saya mulai membaur dengan teman - teman baru saya itu dan mulai berkenalan dengan beberapa teman. Mereka banyak bercerita tentang diri mereka dan saya mulai mengerti ternyata banyak penyebab ketunanetraan. Ada yang dari kecil, ya saya kategorikan itu memang sudah dari pabriknya. Yang membuat menarik adalah penyebab ketunanetraan sewaktu dewasa, ada yang mengalami ketunanetraan karena beberapa penyakit seperti glukoma, Rp seperti saya, lemah syaraf mata dan lainnya. Tapi dari kesekian itu yang membuat menarik saya adalah karena minuman keras. Saya belum mengerti dimana korelasinya antara minuman keras dan kebutaan tapi biarlah itu menjadi urusan dokter mata di negara ini saja yang pasti saya hanya ingin membagi pengalaman teman saya ini. Sebut saja namanya Nano yang merupakan orang dari Cianjur yang tiba - tiba mengalami kebutaan setelah minum minuman keras. Awalnya ia adalah seorang preman di daerah tersebut, anda pasti bisa membayangkan kehidupan seorang preman seperti apa kan? ya hidup di Terminal kota, berbuat sesuka hatinya, berkelahi, berbuat kriminal dan pasti setelah itu tidak jauh dari minuman keras. 'Segala macam minuman keras gue pernah minum' tuturnya bangga dan saya hanya tersenyum geli mendengarnya. Jujur saja saya paling geli mendengar orang membanggakan dirinya karena minuman keras, bagi saya itu hal bodoh yang dilakukan manusia karena dengan minuman keras itu pasti membuat otak kita tidak terkendali dan seperti melayang - layang tidak karuan. Hal terbodoh yang ada di dunia ini dan itu adalah tindakan orang paling pengecut, jujur saya tidak pernah minuman haram itu bahkan sampai memabukkan dan saya sangat membenci hal itu. Dengan membusungkan dada ia menceritakan kehebatannya ketika menjadi preman, dari berkelahi hingga bermabuk - mabukkan. Hingga akhirnya ia ditantang seorang teman yang menantangnya untuk minum Alkohol, saya terkesiap dan mulai menyimak serius perkataannya. Ternyata temannya meminta ia untuk minum Alkohol yang dipakai untuk membersihkan luka karena dalam botol tersebut bertuliskan "Alkohol 100%' dan Nano menyanggupinya serta merta meminum habis isi botol tersebut. Mungkin bagi anda yang belum tahu, kandungan Alkohol pada minuman keras biasanya berkisar sekitar 40% dan itulah menyebabkan Si Nano itu meminum Alkohol untuk pembersih luka tersebut. Setelah meminumnya ia langsung muntah - muntah dan jatuh pingsan. Sebelumnya ia juga merasakan matanya semakin terasa gelap dan akhirnya ia jatuh pingsan. Beruntung nyawanya selamat dan setelah siuman ia mendapati dunia ini menjadi gelap gulita. Dari cerita tersebut entah saya harus tertawa atau merasa kasihan padanya. Itu adalah tindakan terkonyol yang pernah saya dengar dan semoga teman - teman yang membaca cerita ini agar tidak mengikutinya. Sadarlah anda masih diberi anugerah yang luar biasa dari Allah, jadi jangan menyia - nyiakan karunia-Nya. Janganlah menyakiti tubuh anda sendiri sekalipun itu membuat anda merasa hebat di dunia ini.

Senin, 01 Juni 2015

SUHU MENINGKAT DI DUNIA

Akhirnya hujan turun dengan lebatnya di hari ulang tahun saya yang ke 32 ini. Hemm betapa segarnya udara yang saya hirup ini setelah sekian hari udara di Purwokerto kota dimana saya tinggal ini terus memanas suhunya. Sekarang turun hingga mencapai 28 derajat Celcius. Jika udara memanas bisa mencapai 30 derajat celcius lebih. Setinggi itu saja sudah membuat badan ini terasa gerah dan tidak karuan apalagi lebih dari itu, kini saya membayangkan apa yang terjadi di India sana yang sedang mengalami musibah gelombang panas yang suhunya bisa mencapai 50 derajat celcius. Saya sangat bisa merasakan apa yang terjadi di India sana, pastilah sangat berat menjalani hidup dengan kondisi suhu yang sepanas itu, tak pelak banyak jatuh korban akibat musibah gelombang panas tersebut hingga mencapai 1400 jiwa lebih. Pernah suatu hari saya pergi ke kota Madiun, ya itu kota kelahiran Ayah saya dan saya selalu menyempatkan pergi kesana guna bertemu dengan keluarga besar disana. Pada waktu itu memang sedang musim panas dan setelah sampai dengan menggunakan Kereta Api lalu rombongan kami sudah dijemput oleh Paman saya dengan menggunakan mobil hitamnya. Pada waktu itu memang saya merasakan panas yang melebihi kota saya Purwokerto tapi saya tidak menyangka panasnya melebihi apa yang saya perkirakan, begitu berada di mobil Paman saya yang memiliki alat pengukur suhu di mobilnya, betapa terkejutnya saya bahwa di Madiun suhu panasnya bisa mencapai 40 derajat celcius, dan panas seperti itu saja bisa membuat tubuh kita terasa sangat tidak nyaman apalagi suhu yang terjadi di India sana yang bisa mencapai hingga 50 derajat celcius hingga Aspal jalan saja sampai meleleh dibuatnya. Saya berharap musibah panas yang berkepanjangan di India sana segera berakhir dan suhu disana bisa berada pada kisaran normal lagi sehingga masyarakat India bisa melakukan aktivitasnya lagi seperti biasanya. Saya bersyukur berada di kota Purwokerto ini yang menurut saya terbilang nyaman walaupun hanyalah kota kecil. Suhu udara yang berkisar 27 hingga 30 derajat celcius itu saya kategorikan masih terbilang aman untuk manusia karena tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas. Terimakasih ya Allah, Engkau telah menempatkan diri hamba pada tempat yang aman dan nyaman.....

Rabu, 27 Mei 2015

SAYA TUNANETRA

Ini pengalaman sekitar dua tahun yang lalu ketika baru saja menginjakkan kembali ke kota Purwokerto kota tercinta saya dengan status saya yang baru yaitu menjabat sebagai seorang Tunanetra. Saya kini merasa lega dengan status baru saya ini, maaf itu bukan sebuah majas hiperbola atau metafora tapi memang itulah yang saya rasakan sekarang. Kini saya tidak perlu harus bolak - balik pergi ke Dokter mata, tidak perlu lagi harus ditetesi obat tetes mata pembuka pupil yang pasti sesudahnya saya harus mengalami pusing seharian, tidak perlu lagi harus menjalani pengobatan alternatif yang memusingkan dan ujung - ujungnya pasti memojokkan saya, yang apabila pengobatan dari si Therapys tersebut atau orang pintar tersebut apabila tidak berhasil selalu menyudutkan saya yang dibilang saya kurang taat beribadahlah, kesalahan orang tua dululah, atau dosa apalah yang menurut saya tidak ada hubungannya. Retinitus Pigmentosa atau RP memang belum ada obatnya paling tidak untuk negara ini. Lalu apa saya harus menyalahkan Allah atau sebaliknya? tidak, itu pikiran yang sangat kekanak - kanakan bagi saya sendiri. Keluarga besarpun sekarang menyalahkan saya, mereka pikir saya pesimis, tidak mau berusaha sembuh dan lainnya. Kalau kalian membaca tulisan ini, saya ingin berkata tidak, justru saya sangat bersemangat menghadapi hidup ini. Anda bisa membayangkan betapa senangnya saya ketika saya bisa menggunakan komputer lagi walaupun dengan kondisi saya yang buta ini dan dengan menggunakan program khusus yaitu program pembaca layar, tapi saya sangat bersyukur karena saya bisa menggunakan komputer lagi walaupun berbeda cara. Apalagi ketika saya bisa mengakses Internet lagi, wuah rasanya senang bukan kepalang sampai - sampai saya tidak bisa tidur semalaman dan menangis bahagia. Benar, saya sangat bahagia bisa menggunakan komputer lagi, bisa menggunakan ponsel lagi tanpa harus dibantu orang lain. Mungkin teman - teman sesama tunanetra seperti saya menganggap itu sudah hal yang biasa, tapi buat saya itu luar biasa. Anda bisa bayangkan ketika anda tidak bisa melakukan hal yang anda sukai karena keterbatasan fisik anda dan kini anda bisa melakukannya lagi, bagaimana rasanya? pasti anda akan memiliki perasaan yang sama seperti saya. Bahagia sekali. Saya selalu menganggap Allah itu baik, saya benar - benar merasakan kehadiran dan pertolongan Allah selalu menyertai dalam hidup saya. Pernah sewaktu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar dan sifat saya yang suka penasaran sehingga selalu membongkar dan mengutak - atik sepeda balap pemberiah Ayah saya dan hal itulah yang menyebabkan Ayah saya membenci saya dan membiarkan saya kebingungan sendiri sehingga saya tidak dapat memperbaiki rem belakang sepeda yang ampas remnya sudah menipis. Walahasil rem sepeda tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik. Suatu hari saat saya mengendarainya terlalu cepat dan tengah berada pada jalanan yang menurunun sehingga laju sepeda yang saya kendarai begitu cepatnya melaju dan tiba – tiba di depan saya terdapat mobil angkutan umum yang berhenti mendadak, tentu saja itu mebuat saya kelabakan dan dengan pasrah saya hendak menabrakkan sepeda saya ke badan mobil angkutan tersebut. Tapi entah bagaimana secara reflek kedua tangan saya memutar kendali sepeda saya kesamping dan membuat sepeda saya seperti mengepot layaknya film action yang pernah saya tonton tanpa mencederai tubuh saya sama sekali. Saya benar – benar takjub dengan apa yang telah saya lakukan, masalahnya tinggal sedikit lagi saya bisa cedera menabrak mobil angkutan tersebut dan tak pernah terpikirkan dalam otak saya akan melakukan gerakan secepat itu, seperti ada yang mengendalikan tubuh saya secara cepat dan menyelamatkan hidup saya, itu pasti karena kebesaran-NYA. Allah tidak menghendaki saya terluka pada waktu itu. Sekarang dengan tenang saya mengetukkan tongkat tunanetra saya ke jalan. Pasti banyak orang yang memandang aneh terhadap saya, mengasihani saya bahkan mencibir saya dan saya hanya menyunggingkan senyuman. Ya walaupun tidak semua seperti itu, ada juga yang baik dan membantu saya, rasanya saya ingin mengucapkan rasa terimakasih kepada semua yang telah membantu saya Pernah suatu hari ketika saya akan turun dari mobil angkutan umum dan memanjangkan tongkat lipat tunanetra saya, secara tidak sengaja saya mendengar bisikan orang yang sedang membicarakan saya dengan berkata kepada orang yang disebelahnya “Masih bisa lihat kok pakai tongkat si, pura – pura buta kali ya” Hemm saya hanya menggelengkan kepala saja. Mereka tidak tahu bahwa walaupun mata saya masih utuh secara sekilas, akan tetapi pandangan mata saya kosong dan itu baru disadari jika orang tersebut benar – benar mengamati saya secara seksama. Tapi tak apalah, saya ikhlas menerima semua cibiran itu. Saya Ardynal Purbowo dan saya tunanetra, saya lelaki dan saya tunanetra, saya tangguh dan saya tunanetra, saya bersemangat dan saya tunanetra, saya cinta kedamaian dan saya tunanetra, saya rocker dan saya tunanetra dan saya siap berkenalan dengan anda karena saya tunanetra.

Jumat, 22 Mei 2015

SEBUTAN MASA LALU

Ini adalah salah satu cerita terlucu dalam hidup saya yang hingga saat ini begitu mengingat kejadian itu saya hampir tersenyum - senyum sendiri seperti orang yang tidak waras. Ceritanya bermula tadi ketika saya hendak pegi menuju ke Mushola terdekat untuk menunaikan ibadah Sholat Jum'at. Setelah berganti pakaian dan memakai sarung, segera saya ambil tongkat tunanetra kesayangan saya dan bergegas keluar menuju Mushola terdekat dengan membuka pintu gerbang rumah saya terlebih dahulu dan menyapa ramah keponakan saya yang masih berumur 4 tahun yang sedang bermain di teras rumah. "Daaah Yardan, Uncle Bo pergi dulu ya Assalamualaikum!" Itulah sapaan saya kepada keponakan saya yang bernama Yardan dan diapun ikut melambaikan tangannya sambil berujar "Daah Uncle Bo!" Saya hanya tersenyum sendiri saja dan berlalu ketika Yardan terus memanggil nama saya berulang – ulang dan tiba – tiba ketika hampir sampai ke Mushola Yardan kembali berteriak, tapi kali ini berbeda dengan ucapannya sebelumnya dan berkata "Daaah Uncle Bo ... Mas Gondez!” Saya tak bisa menahan tawa lagi dan tergelak – gelak sendirian, saya tak perduli orang sekitar memandang aneh terhadap saya atau tidak yang jelas ucapan Yardan itu membuat saya tertawa terpingkal – pingkal. Andapun pasti terheran – heran kenapa saya begitu hanya gara – gara sebutan 'Gondez' yang dilontarkan terhadap saya oleh Yardan keponakan saya tadi. Gondez adalah singkatan dari Gondrong Desa yang sebenarnya istilah tersebut diperuntukkan kepada adik ipar saya yang merupakan ayah dari Yardan keponakan saya itu. Memang dulu sewaktu masih di bangku perkuliahan saya dan adik ipar saya adalah teman sekelas dan entah bagaimana ia sekarang menjadi suami dari adik saya . Adik ipar saya yang berambut keriting memang dibiarkan memanjang ketika dulu sewaktu masih kuliah sehingga teman – temannya termasuk saya sering memanggilnya ‘Gondez’ alias Gondrong Ndeso, karena memang sudah familiar dengan keluarga saya sehingga semua orang di keluarga saya secara spontan selalu menyebut Mas Gondez terhadapnya. Mungkin karena itulah istilah tersebut secara tidak sengaja didengar oleh keponakan saya yang mulai kritis terhadap sesuatu yang baru dan mengira istilah tersebut diperuntukkan untuk saya. Aakan tetapi kesalahpahaman tersebut membuat saya tertawa terpingkal – pingkal apalagi begitu saya mengingat rambut adik ipar saya dulu yang dibiarkan memanjang sewaktu masih kuliah sehingga tawa saya makin menjadi – jadi. Duuuh Yardan, Yardan kau selalu bisa membuat Uncle Bo mu ini terus tertawa hahaha

Senin, 11 Mei 2015

PHOTO SELURUH BADAN

Ini merupakan sebuah cerita ringan dari saya tentang bagaimana kondisi nyata seputar Tunanetra di wilayah saya. Cerita ini berawal ketika saya sedang menjadi anggota pada sebuah organisasi Tunanetra di tempat saya yaitu Purwokerto. Suatu saat sang Ketua mengumumkan agar seluruh anggota wajib menyerahkan Pas Photo ukuran 4 X 6 sebanyak 1 lembar untuk pendataan anggota dan harus diserahkan paling lambat seminggu setelah pengumuman tersebut. Ini pasti sangat mudah bagi anda yang membaca ini dan juga saya sendiri karena hal itu adalah persyaratan umum ketika kita bersekolah atau sedang melamar pekerjaan sehingga bagi saya yang hanya mengenyam pendidikan sampai Diploma 3 pada suatu perguruan tinggi negeri di kota saya itu pasti sudah tidak asing dengan persyaratan seperti itu, tapi lain halnya dengan teman saya sesama penyandang Tunanetra. Ketika saya secara iseng berkunjung ke rumah teman saya, sebut saja namanya Pak Anto yang juga sesama penyandang Tunanetra, dengan penuh perhatian Pak Anto bertanya kepada saya sudahkah menyiapkan Pas Photo untuk persyaratan? dan saya jawab sudah, lalu saya balik bertanya dan Pan Anto hanya menjawab belum dan tampak nada kebingungan dari perkataannya tapi saya tidak begitu menghiraukannya. Pak Anto kembali bertanya, kira - kira untuk proses pengambilan gambar untuk Pas Photo butuh biaya berapa, mahal tidak? dan saya menjawab ya bisa dibuat murah Pak dengan cara mengambil gambarnya menggunakan kamera Ponsel saja lalu dicetak di tempat penyetakan Photo terdekat. Memang si hasilnya tidak begitu bagus tapi lumayanlah kalau hanya untuk sekedar persyaratan tersebut, ujar saya yang berniat memberikan solusi termudah agar Pak Anto tersebut tidak herus mengeluarkan biaya banyak untuk Pas Photo tersebut mengingat Pak Anto ini berasal dari kalangan menengah kebawah. Lalu dengan lugunya Pak Anto bertanya kalau pemrotetan tersebut apakah di Photo sampai seluruh badan yaitu dari ujung kaki sampai ujung kepala?, begitu pertanyaan itu terlontar saya langsung tertawa hingga tergelak - gelak. Sungguh saya tidak menyangka Pak Anto akan bertanya seperti itu, lalu saya berusaha mengendalikan diri dan mulai menjawab dengan serius bahwa yang namanya Photo Formal seperti itu pastilah yang di Photo hanya dari pinggang keatas dan berpakaian rapi, lalu tiba - tiba istrinya menyela dan berkata mungkin untuk uPhoto seluruh badan ukuran Photonya lebih besar bisa 1R atau ukuran Postcard atau bahkan lebih besar lagi dan saya tidak dapat menahan kegelian itu hingga kembali tertawa lepas sambil berujar ya dimana - mana yang namanya Photo Formal ya setengah badan dan ucapan saya itu di debat oleh Pak Anto yang tetap bersikeras harus di Photo seluruh badan. Saya hanya menggeleng - nggelengkan kepala saya dan menyudahi pembicaraan itu seerta mengalihkan ke pembicaraan lain daripada saya ikut - ikutan terhasut dengan pernyataan lugu tersebut. Selang beberapa hari saya kembali bertandang ke kediaman Pak Anto tersebut dan dengan polosnya Pak Anto mengakui bahwa pernyataan saya beberapa hari yang lalu memang benar, lalu ia menceritakan bahwa pasca sepulangnya saya lalu ia meminta diphotokan melalui bantuan adik iparnya yang normal yaitu di photo seluruh badan dari ujung kaki sampai ujung kepala dan setelah itu hasilnya minta dicetakkan ke tempat yang pernah saya sarankan. Setelah di edit dan dicetak lalu hasilnya diserahkan kepada adik iparnya untuk dilihat dan adik iparnya hanya tertawa geli karena hasil cetakan photonya adalah setengah badan, jadi sudah di edit terlebih dahulu. Pada waktu itu Pak Anto mulai emosi dan menelepon ke sang Ketua untuk minta penjelasan tentang Photo. Sang Ketua dengan penuh wibawa menjelaskan ya pastilah Photo setengah badan, lalu dengan tawa polosnya ia tertawa mengakui kesalahannya kepada saya dan saya hanya tertawa kecil saja dan memakluminya. Melalui pengalaman ini saya jadi tahu bahwa tidak semua orang tahu tentang Pas Photo tersebut apalagi seorang Tunanetra yang belum pernah melihat gambar dirinya sendiri baik di cermin, Photo atau lainnya. Masih beruntung saya yang pernah diberi kemampuan melihat sehingga pernah mengetahui hal semacam itu walaupun kini saya sama dengan mereka. Dari pengalaman inilah saya mulai terus menceritakan gambaran dunia ini kepada mereka agar teman - teman saya sesama penyandang Tunanetra bisa menggambarkan detail tentang kondisi dunia ini. Bagi anda yang membaca tulisan saya ini dan diberi kelengkapan tubuh yang normal saya sarankan apabila bertemu dengan teman - teman saya sesama penyandang Tunanetra diminta untuk lebih bersabar ketika ingin menjelaskan sesuatu karena kita tidak pernah melihat indahnya Dunia ini, jadi harus dijelaskan melalui pendengaran, sentuhan dan rasa. terimakasih sudah membaca pengalaman saya ini, salam.

Senin, 04 Mei 2015

BAND PERTUNI BANYUMAS BERSAMA IDEALISMEKU

Pengalaman ini terjadi sewaktu pada hari kemarin di hari minggu ketika saya sedang berkumpul bersama teman - teman sesama penyandang Tunanetra yang menamakan Organisasinya Pertuni Banyumas. Sebenarnya diumur saya yang mulai menginjak 32 tahun sudah tidak begitu tertarik dengan bunia Show Bizz dan Musik, rasanya malas saja dan lebih cenderung bermain gitar untuk diri sendiri saja, tapi sepertinya takdir berkehendak lain, sepertinya Allah tidak ingin saya berhenti sampai disitu saja, ada saja yang mengajak bermain Band walaupun hanya sekedar melepas penat saja. Sampai akhirnya ketika saya kembali ke kota tercinta saya ini yaitu Purwokerto, sayapun ditawari masuk ke dalam sebuah Band yaitu Pertuni Banyumas Band yang berisikan semua penyandang Tunanetra. Kali inipun saya dipercaya memegang melody pada Gitar electrick. Perdebatan itupun terjadi ketika Band tersebut harus stagnan karena bermasalah pada penggarapan musik yang bertema Koesplus, hingga Pak Budi berujar 'Jangan sampai gara - gara mau manggung ke RRI dan Banyumas Tv kita jadi kacau'. Lalu dengan nada emosi saya bertanya 'Kacau Bagaimana?'. Sepertinya penggarapan lagu tersebut menjadi kendala berarti dalam kemajuan sebuah band. Saya tahu maksudnya, bahwa mereka ingin selalu menyanyikan lagu dang dut, bukannya koesplus. Hanya saja karena ada penawaran untuk manggung dengan tema Koesplus mereka menjadi berambisi untuk itu akan tetapi tidak terlalu serius dalam berlatih. Ada saja alasannya ya karena harus memijat atau anak atau lainnya. Saya tahu mereka harus memenuhi kebutuhan sehari – hari dengan memijat atau lainnya, tapi dalam dunia Show Bizz itu tidak ada alasan apapun, penonton ingin dihibur dan mereka membayar untuk itu dan saya tidak ingin Band ini tampil seadanya dan orang hanya berkata ‘Ya segitu juga sudah bagus, namanya juga Tunanetra’. Tidak, tidak saya tidak ingin teman – teman saya diremehkan dengan kalimat itu, saya ingin teman – teman tampil dengan penampilan maksimal dan paling tidak setara dengan Band – band umum lainnya. Jangan ada ungkapan kasihan itu terlontar dari mereka, jadi maafkan saya teman – teman Bandku jika saya berkata sedikit kasar, karena saya tidak ingin kita disepelkan atau diremehkan, saya ingin kita walaupun memiliki keterbatasan, akan tetapi kita bisa memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti lainnya. Maka dari itu, teruslah berlatih dan berlatih hingga kita layak untuk tampil dan orang orang berkata ‘Wow hebat, ternyata Tunanetra Ok juga’

Sabtu, 02 Mei 2015

MUSIK ROCK DAN DIRIKU

Kadang agak sedikit sebal juga sebuah hasil penelitian yang digemborkan sana - sini tanpa ada klarifikasi terlebih dahulu.Penelitian itu berupa tentang keajaiban Air yang diperdengarkan dengan lantunan doa dan musik Rock memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Permasalahannya adalah bukan hasil dari peneelitian tersebut yang memiliki kesimpulan bahwa air dapat berubah sesuai dengan apa yang kita inginkan. Efeknya adalah ada orang yang menjadi beranggapan bahwa musik Rock itu jelek dan menyesatkan. Padahal penelitian itu juga tidak menjelaskan secara pasti musik Rock aliran jenis apa dan bagaimana. Pengalaman saya sendiri yang harus mengalami fase melihat dan sekarang menjadi Tunanetra sangat terbantu dengan Musik Rock tersebut. Musik Rock itu bisa memberikan semangat hidup dan memacu adrenalin saya agar selalu berusaha lebih keras dalam menjalani hidup ini menjadi lebih baik. Saya yang lebih menyukai musik Rock jenis Slow Rock, Pop Rock, Alternatif, Melodick Core dan lainnya merasa terpacu dengan aliran musik tersebut. Apalagi ketika ketika saya sedang memegang sebuah Gitar Electrick dengan distorsi full, sepertinya saya sedang menggenggam dunia ini. Pernah suatu saat ketika perlahan - lahan mata saya mengalami penurunan kemampuan mata dan disaat itulah Band yang saya sudah bentuk beberapa tahun lalu harus bubar karena kesibukan teman - teman Band saya yang harus mencari sesuatu untuk penghidupan mereka. Dari situ saya bertanya dalam hati, apakah ada masalah antara ngeband dan bekerja atau berbisnis? tidak bisakah meluangkan waktu satu jam saja di setiap minggunya atau setiap bulan saja untuk ngeband atau sekedar bercengkrama bersama? kenapa uang bisa mengalahkan hobi kita? Disaat seperti itulah saya duduk dalam kaar saya dan mencoba menyetel beberapa lagu kesukaan saya seperti Blink 182, Mr Big dan lainnya. Saya membayangkan grup musik seperti mereka pastilah juga pernah mengalami hal seperti yang saya alami ini, tapi mereka tetap bermain, tetap berkarya tidak perduli apakah musik yang mereka hasilkan itu laku dipasaran atau tidak, itulah idealisme. Saya mulai menetapkan tekad bahwa dengan keterbatasan saya ini, saya bisa menyeimbangkan antara musik, bekerja dan mencari uang. Saya yakin, dulu sewaktu saya membentuk Band itu, walaupun dengan kemampuan bermusik yang pas - pasan tapi bisa membawa Band saya hingga muncul ke permukaan ya walaupun hanya sampai Band Lokal saja, tapi kami mampu membuat beberapa lagu yang merupakan hasil karya sendiri dan pasti saya bisa membangun sebuah bisnis atau usaha walaupun dengan modal yang seadanya juga. Bermodalkan uang 30 Ribu Rupiah saya mencoba membuat masakan yaitu Mie Goreng yang saya masukkan ke dalam wadah atau tempat dan di jual. Dari 15 Porsi Mie Goreng saya berhasil menjual sekitar 7 Porsi. Ya walaupun tidak menghasilkan keuntungan lebih, hanya balik modal saja akan tetapi dari situlah saya meyakini bahwa setiap usaha pasti menghasilkan sesuatu. Kemudian dengan meminjam modal kepada Bapak saya sekitar 7 Juta, saya mulai membuka usaha Laundry walaupun masih bertempat di rumah saja. Dari situlah usaha saya mulai berkembang hingga merambah ke usaha lainnya seperti budidaya tanaman Strawberry dan Jamur Tiram. Alhamdulillah semua berjalan dan saya masih bisa ngeband walaupun bukan bersama Band yang dulu. Hingga suatu saat teman saya yang dulu juga ikut dalam Band yang saya bentuk dulu datang ke tempat saya dan ingin berhutang uang kepada saya. Ya, saya hanya tersenyum kecil sembari menyerahkan uang yang ia minta sembari bersyukur bahwa kepada Allah yang telah memberikan bayak potensi dan kreatifitas kepada saya. Terimakasih ya Allah engkau telah memberikan hal - hal yang hebat untukku disaat mata ini engkau ambil. Di tulisan ini saya hanya ingin berkata bahwa tidak masalah jika anak anda suka dengan musik Rock, tidak masalah jika anda sendiri suka musik Rock, asalkan bisa menghasilkan hal yang positif dan menambah kreatifitas kenapa tidak, jadi jangan takut dengan musik Rock yaa