Jumat, 22 Mei 2015

SEBUTAN MASA LALU

Ini adalah salah satu cerita terlucu dalam hidup saya yang hingga saat ini begitu mengingat kejadian itu saya hampir tersenyum - senyum sendiri seperti orang yang tidak waras. Ceritanya bermula tadi ketika saya hendak pegi menuju ke Mushola terdekat untuk menunaikan ibadah Sholat Jum'at. Setelah berganti pakaian dan memakai sarung, segera saya ambil tongkat tunanetra kesayangan saya dan bergegas keluar menuju Mushola terdekat dengan membuka pintu gerbang rumah saya terlebih dahulu dan menyapa ramah keponakan saya yang masih berumur 4 tahun yang sedang bermain di teras rumah. "Daaah Yardan, Uncle Bo pergi dulu ya Assalamualaikum!" Itulah sapaan saya kepada keponakan saya yang bernama Yardan dan diapun ikut melambaikan tangannya sambil berujar "Daah Uncle Bo!" Saya hanya tersenyum sendiri saja dan berlalu ketika Yardan terus memanggil nama saya berulang – ulang dan tiba – tiba ketika hampir sampai ke Mushola Yardan kembali berteriak, tapi kali ini berbeda dengan ucapannya sebelumnya dan berkata "Daaah Uncle Bo ... Mas Gondez!” Saya tak bisa menahan tawa lagi dan tergelak – gelak sendirian, saya tak perduli orang sekitar memandang aneh terhadap saya atau tidak yang jelas ucapan Yardan itu membuat saya tertawa terpingkal – pingkal. Andapun pasti terheran – heran kenapa saya begitu hanya gara – gara sebutan 'Gondez' yang dilontarkan terhadap saya oleh Yardan keponakan saya tadi. Gondez adalah singkatan dari Gondrong Desa yang sebenarnya istilah tersebut diperuntukkan kepada adik ipar saya yang merupakan ayah dari Yardan keponakan saya itu. Memang dulu sewaktu masih di bangku perkuliahan saya dan adik ipar saya adalah teman sekelas dan entah bagaimana ia sekarang menjadi suami dari adik saya . Adik ipar saya yang berambut keriting memang dibiarkan memanjang ketika dulu sewaktu masih kuliah sehingga teman – temannya termasuk saya sering memanggilnya ‘Gondez’ alias Gondrong Ndeso, karena memang sudah familiar dengan keluarga saya sehingga semua orang di keluarga saya secara spontan selalu menyebut Mas Gondez terhadapnya. Mungkin karena itulah istilah tersebut secara tidak sengaja didengar oleh keponakan saya yang mulai kritis terhadap sesuatu yang baru dan mengira istilah tersebut diperuntukkan untuk saya. Aakan tetapi kesalahpahaman tersebut membuat saya tertawa terpingkal – pingkal apalagi begitu saya mengingat rambut adik ipar saya dulu yang dibiarkan memanjang sewaktu masih kuliah sehingga tawa saya makin menjadi – jadi. Duuuh Yardan, Yardan kau selalu bisa membuat Uncle Bo mu ini terus tertawa hahaha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar