Rabu, 27 Mei 2015

SAYA TUNANETRA

Ini pengalaman sekitar dua tahun yang lalu ketika baru saja menginjakkan kembali ke kota Purwokerto kota tercinta saya dengan status saya yang baru yaitu menjabat sebagai seorang Tunanetra. Saya kini merasa lega dengan status baru saya ini, maaf itu bukan sebuah majas hiperbola atau metafora tapi memang itulah yang saya rasakan sekarang. Kini saya tidak perlu harus bolak - balik pergi ke Dokter mata, tidak perlu lagi harus ditetesi obat tetes mata pembuka pupil yang pasti sesudahnya saya harus mengalami pusing seharian, tidak perlu lagi harus menjalani pengobatan alternatif yang memusingkan dan ujung - ujungnya pasti memojokkan saya, yang apabila pengobatan dari si Therapys tersebut atau orang pintar tersebut apabila tidak berhasil selalu menyudutkan saya yang dibilang saya kurang taat beribadahlah, kesalahan orang tua dululah, atau dosa apalah yang menurut saya tidak ada hubungannya. Retinitus Pigmentosa atau RP memang belum ada obatnya paling tidak untuk negara ini. Lalu apa saya harus menyalahkan Allah atau sebaliknya? tidak, itu pikiran yang sangat kekanak - kanakan bagi saya sendiri. Keluarga besarpun sekarang menyalahkan saya, mereka pikir saya pesimis, tidak mau berusaha sembuh dan lainnya. Kalau kalian membaca tulisan ini, saya ingin berkata tidak, justru saya sangat bersemangat menghadapi hidup ini. Anda bisa membayangkan betapa senangnya saya ketika saya bisa menggunakan komputer lagi walaupun dengan kondisi saya yang buta ini dan dengan menggunakan program khusus yaitu program pembaca layar, tapi saya sangat bersyukur karena saya bisa menggunakan komputer lagi walaupun berbeda cara. Apalagi ketika saya bisa mengakses Internet lagi, wuah rasanya senang bukan kepalang sampai - sampai saya tidak bisa tidur semalaman dan menangis bahagia. Benar, saya sangat bahagia bisa menggunakan komputer lagi, bisa menggunakan ponsel lagi tanpa harus dibantu orang lain. Mungkin teman - teman sesama tunanetra seperti saya menganggap itu sudah hal yang biasa, tapi buat saya itu luar biasa. Anda bisa bayangkan ketika anda tidak bisa melakukan hal yang anda sukai karena keterbatasan fisik anda dan kini anda bisa melakukannya lagi, bagaimana rasanya? pasti anda akan memiliki perasaan yang sama seperti saya. Bahagia sekali. Saya selalu menganggap Allah itu baik, saya benar - benar merasakan kehadiran dan pertolongan Allah selalu menyertai dalam hidup saya. Pernah sewaktu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar dan sifat saya yang suka penasaran sehingga selalu membongkar dan mengutak - atik sepeda balap pemberiah Ayah saya dan hal itulah yang menyebabkan Ayah saya membenci saya dan membiarkan saya kebingungan sendiri sehingga saya tidak dapat memperbaiki rem belakang sepeda yang ampas remnya sudah menipis. Walahasil rem sepeda tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik. Suatu hari saat saya mengendarainya terlalu cepat dan tengah berada pada jalanan yang menurunun sehingga laju sepeda yang saya kendarai begitu cepatnya melaju dan tiba – tiba di depan saya terdapat mobil angkutan umum yang berhenti mendadak, tentu saja itu mebuat saya kelabakan dan dengan pasrah saya hendak menabrakkan sepeda saya ke badan mobil angkutan tersebut. Tapi entah bagaimana secara reflek kedua tangan saya memutar kendali sepeda saya kesamping dan membuat sepeda saya seperti mengepot layaknya film action yang pernah saya tonton tanpa mencederai tubuh saya sama sekali. Saya benar – benar takjub dengan apa yang telah saya lakukan, masalahnya tinggal sedikit lagi saya bisa cedera menabrak mobil angkutan tersebut dan tak pernah terpikirkan dalam otak saya akan melakukan gerakan secepat itu, seperti ada yang mengendalikan tubuh saya secara cepat dan menyelamatkan hidup saya, itu pasti karena kebesaran-NYA. Allah tidak menghendaki saya terluka pada waktu itu. Sekarang dengan tenang saya mengetukkan tongkat tunanetra saya ke jalan. Pasti banyak orang yang memandang aneh terhadap saya, mengasihani saya bahkan mencibir saya dan saya hanya menyunggingkan senyuman. Ya walaupun tidak semua seperti itu, ada juga yang baik dan membantu saya, rasanya saya ingin mengucapkan rasa terimakasih kepada semua yang telah membantu saya Pernah suatu hari ketika saya akan turun dari mobil angkutan umum dan memanjangkan tongkat lipat tunanetra saya, secara tidak sengaja saya mendengar bisikan orang yang sedang membicarakan saya dengan berkata kepada orang yang disebelahnya “Masih bisa lihat kok pakai tongkat si, pura – pura buta kali ya” Hemm saya hanya menggelengkan kepala saja. Mereka tidak tahu bahwa walaupun mata saya masih utuh secara sekilas, akan tetapi pandangan mata saya kosong dan itu baru disadari jika orang tersebut benar – benar mengamati saya secara seksama. Tapi tak apalah, saya ikhlas menerima semua cibiran itu. Saya Ardynal Purbowo dan saya tunanetra, saya lelaki dan saya tunanetra, saya tangguh dan saya tunanetra, saya bersemangat dan saya tunanetra, saya cinta kedamaian dan saya tunanetra, saya rocker dan saya tunanetra dan saya siap berkenalan dengan anda karena saya tunanetra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar