Ini merupakan sebuah cerita ringan dari saya tentang bagaimana kondisi nyata seputar Tunanetra di wilayah saya. Cerita ini berawal ketika saya sedang menjadi anggota pada sebuah organisasi Tunanetra di tempat saya yaitu Purwokerto. Suatu saat sang Ketua mengumumkan agar seluruh anggota wajib menyerahkan Pas Photo ukuran 4 X 6 sebanyak 1 lembar untuk pendataan anggota dan harus diserahkan paling lambat seminggu setelah pengumuman tersebut. Ini pasti sangat mudah bagi anda yang membaca ini dan juga saya sendiri karena hal itu adalah persyaratan umum ketika kita bersekolah atau sedang melamar pekerjaan sehingga bagi saya yang hanya mengenyam pendidikan sampai Diploma 3 pada suatu perguruan tinggi negeri di kota saya itu pasti sudah tidak asing dengan persyaratan seperti itu, tapi lain halnya dengan teman saya sesama penyandang Tunanetra.
Ketika saya secara iseng berkunjung ke rumah teman saya, sebut saja namanya Pak Anto yang juga sesama penyandang Tunanetra, dengan penuh perhatian Pak Anto bertanya kepada saya sudahkah menyiapkan Pas Photo untuk persyaratan? dan saya jawab sudah, lalu saya balik bertanya dan Pan Anto hanya menjawab belum dan tampak nada kebingungan dari perkataannya tapi saya tidak begitu menghiraukannya.
Pak Anto kembali bertanya, kira - kira untuk proses pengambilan gambar untuk Pas Photo butuh biaya berapa, mahal tidak? dan saya menjawab ya bisa dibuat murah Pak dengan cara mengambil gambarnya menggunakan kamera Ponsel saja lalu dicetak di tempat penyetakan Photo terdekat. Memang si hasilnya tidak begitu bagus tapi lumayanlah kalau hanya untuk sekedar persyaratan tersebut, ujar saya yang berniat memberikan solusi termudah agar Pak Anto tersebut tidak herus mengeluarkan biaya banyak untuk Pas Photo tersebut mengingat Pak Anto ini berasal dari kalangan menengah kebawah.
Lalu dengan lugunya Pak Anto bertanya kalau pemrotetan tersebut apakah di Photo sampai seluruh badan yaitu dari ujung kaki sampai ujung kepala?, begitu pertanyaan itu terlontar saya langsung tertawa hingga tergelak - gelak. Sungguh saya tidak menyangka Pak Anto akan bertanya seperti itu, lalu saya berusaha mengendalikan diri dan mulai menjawab dengan serius bahwa yang namanya Photo Formal seperti itu pastilah yang di Photo hanya dari pinggang keatas dan berpakaian rapi, lalu tiba - tiba istrinya menyela dan berkata mungkin untuk uPhoto seluruh badan ukuran Photonya lebih besar bisa 1R atau ukuran Postcard atau bahkan lebih besar lagi dan saya tidak dapat menahan kegelian itu hingga kembali tertawa lepas sambil berujar ya dimana - mana yang namanya Photo Formal ya setengah badan dan ucapan saya itu di debat oleh Pak Anto yang tetap bersikeras harus di Photo seluruh badan. Saya hanya menggeleng - nggelengkan kepala saya dan menyudahi pembicaraan itu seerta mengalihkan ke pembicaraan lain daripada saya ikut - ikutan terhasut dengan pernyataan lugu tersebut.
Selang beberapa hari saya kembali bertandang ke kediaman Pak Anto tersebut dan dengan polosnya Pak Anto mengakui bahwa pernyataan saya beberapa hari yang lalu memang benar, lalu ia menceritakan bahwa pasca sepulangnya saya lalu ia meminta diphotokan melalui bantuan adik iparnya yang normal yaitu di photo seluruh badan dari ujung kaki sampai ujung kepala dan setelah itu hasilnya minta dicetakkan ke tempat yang pernah saya sarankan. Setelah di edit dan dicetak lalu hasilnya diserahkan kepada adik iparnya untuk dilihat dan adik iparnya hanya tertawa geli karena hasil cetakan photonya adalah setengah badan, jadi sudah di edit terlebih dahulu. Pada waktu itu Pak Anto mulai emosi dan menelepon ke sang Ketua untuk minta penjelasan tentang Photo. Sang Ketua dengan penuh wibawa menjelaskan ya pastilah Photo setengah badan, lalu dengan tawa polosnya ia tertawa mengakui kesalahannya kepada saya dan saya hanya tertawa kecil saja dan memakluminya.
Melalui pengalaman ini saya jadi tahu bahwa tidak semua orang tahu tentang Pas Photo tersebut apalagi seorang Tunanetra yang belum pernah melihat gambar dirinya sendiri baik di cermin, Photo atau lainnya. Masih beruntung saya yang pernah diberi kemampuan melihat sehingga pernah mengetahui hal semacam itu walaupun kini saya sama dengan mereka. Dari pengalaman inilah saya mulai terus menceritakan gambaran dunia ini kepada mereka agar teman - teman saya sesama penyandang Tunanetra bisa menggambarkan detail tentang kondisi dunia ini. Bagi anda yang membaca tulisan saya ini dan diberi kelengkapan tubuh yang normal saya sarankan apabila bertemu dengan teman - teman saya sesama penyandang Tunanetra diminta untuk lebih bersabar ketika ingin menjelaskan sesuatu karena kita tidak pernah melihat indahnya Dunia ini, jadi harus dijelaskan melalui pendengaran, sentuhan dan rasa. terimakasih sudah membaca pengalaman saya ini, salam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar