Jumat, 01 Mei 2015
SEORANG TUNANETRA MENGAJAR INTERNET
Di dalam Blog ini nanti saya akan banyak menceritakan kisah hidup dari diri saya sendiri maupun orang - orang yang pernah saya kenal. Baiklah dimulai seperti judul diatas. Seorang Tunanetra Mengajar Internet, ini memang benar - benar kisah nyata yang pernah saya alami ketika beberapa hari yang lalu tiba - tiba saya kedatangan tamu yang belum pernah saya kenal sama sekali. Saya pikir awalnya mungkin orang itu ingin pijat dengan saya, ya kebetulan saya sendiri membuka jasa pelayanan pijat di rumah.
Tapi ketika saya persilahkan masuk ternyata orang tersebut berniat lain. Setelah saya persilahkan duduk dan menanyakan maksud kedatangannya ternyata orang tersebut ingin belajar menggunakan Internet kepada saya. Bagaikan petir di siang bolong, langsung dalam hati saya berkata orang ini waras atau tidak. Lalu saya bertanya, apakah Bapak tahu saya adalah seorang tunanetra? dan dengan mantap Bapak itu menjawab ya tentu saja saya tahu mas ini memang Tunanetra tapi kata orang Mas ini bisa main Internet, makannya saya ingin belajar sama Mas.
Hemm, mungkin orang ini ingin mengetes sejauh mana kehebatan saya menggunakan Internet. Memang saya sebagai seorang Tunanetra ya sudah menjadi rahasia umum bisa menggunakan Internet dengan bantuan program pembaca layar, tapi mengajar orang normal menggunakan internet? apa itu tidak salah? orang ini benar - benar aneh tapi nyata.
Dengan menghembuskan nafas panjang saya mencoba menetralisir emosi saya. Dalam hal ini saya harus sabar karena saya belum tahu benar orang ini memang ingin belajar Internet atau hanya sekedar ingin tahu seorang Tunanetra menggunakan Internet.
"Baiklah Pak, sekarang Bapak mau belajar Internet yang bagaimana?"
Kali ini saya mencoba untuk menerima tujuan orang tersebut sembari berhati - hati dengan situasi ini. Orang tersebut langsung saja menunjukkan beberapa Ponsel diatas meja. Ada sekitar 3 buah Ponsel yang ia tunjukkan, 2 bermerk Nokia dan satu lagi bermerk Cross. Ternyata Bapak tersebut ingin belajar menggunakan Internet di Ponsel. Saya lebih cenderung menggunakan Ponsel bermerk Nokia saja karena saya lebih menguasai Ponsel jenis merk tersebut. Lalu ia menawarkan mau menggunakan Provider mana dan ia menyebutkan satu persatu jenis Providernya dan saya lebih cenderung memilih menggunakan Telkomsel saja.
Lalu saya menanyakan apa jenis seri Ponselnya dan Bapak itu kebingungan menjawabnya. Lalu saya memberikan caranya dengan mengetikkan *#0000#, dan terpampanglah nomor serinya tapi tidak dengan Ponsel yang satu lagi padahal ia yakin itu adalah bermerk Nokia. Saya tersenyum geli sendiri dan berkata dalam hati orang ini memang berpura - pura tidak tahu atau memang tidak tahu, lalu dengan sabar saya menjawab itu berarti Ponsel Bapak bukan Nokia atau hanya Nokia bajakan saja. Lalu saya segera maju ke langkah berikutnya yaitu dengan memaketkan ke program Internet di Simpati milik Bapak tersebut dan dengan perlahan Bapak tersebut mulai mengikuti apa yang saya ucapkan. Berhubung Ponsel Bapak tersebut tidak menggunakan Program Pembaca layar, terpaksa si Bapak tersebut membacakan tulisan - tulisan yang terpampang di layar Ponsel tersebut.
Setelah berhasil memaketkan ke program Internet saya berusaha mencari alasan agar si Bapak itu pulang karena memang saya ada keperluan dan saya minta dilanjutkan keesokan paginya saja, ya saya ingin tahu apakah si Bapak itu memang bersungguh - sungguh ingin belajar atau tidak.
Setelah si Bapak itu pulang lalu saya segera menanyakan kepada orang rumah tentang bentuk dan penampilan si Bapak tersebut, menurut orang rumah si Bapak tersebut berwajah seperti orang Arab, berjenggot dan bercelana katung. Hemm, saya jadi berpikir lain lagi, jangan - jangan si Bapak tersebut ingin menolong atau membantu saya dengan berpura - pura ingin belajar Internet kemudian memberi upah kepada saya dengan niat ingin beramal. Ya tentu saja, seorang tunanetra seperti saya ini selalu identitk dengan momok kasihan. Hemm ya sudahlah saya tidak mau memikirkan masalah itu lagi dan berusaha melupakan kejadian sore itu. Tapi tak disangka keesokan paginya si Bapak itu datang lagi dan membawa sejumlah makanan dan kita menyantap makanan itu bersama sambil mengobrol ringan, kebetulan si Bapak itu lupa membawa Ponselnya dan saya mulai menyangka si Bapak ini memang tidak benar - benar serius ingin belajar Internet kepada saya, ya sudahlah itu justru bagus, jadi saya tidak perlu kerepotan mengajar dengan dua kondisi alam yang berbeda hahaha.
Setelah saya mulai membiasakan diri terhadap si Bapak ini ternyata keesokan laginya si Bapak ini datang dengan membawa Ponselnya dan menanyakan langkah selanjutnya. Ya dengan perlahan saya mengajarkan bagaimana cara berinternet lewat Ponsel hingga si Bapak itu berhasil googling atau menggunakan mesin pencari di google. Saya merasakan kepuasan si Bapak tersebut, apalagi ketika saya menunjukkan Notebook saya dan menunjukkan bentuk sebuah website, si Bapak itu terus berujar 'Subhanallah' . ternyata si Bapak itu memang benar - benar ingin belajar Internet, berhubung usianya yang sudah menginjak 60 tahunan sehingga anak - anaknyapun enggan untuk mengajarkan Internet kepadanya, sehingga ia mencari saya yang hanyalah seorang Tunanetra. Sang Bapak itu akhirnya berpamitan pulang dengan rasa puas dan senang, lalu saya melepas kepergian Bapak itu dengan rasa syukur, ya saya sendiri bersyukur bisa diberi kemampuan untuk mengajarkan Internet walaupun dengan kekurangan saya ini. Semoga ilmu yang saya ajarkan itu bisa bermanfaat untuk si Bapak itu. Amin.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar